Dengan Manfaatkan Teknologi Nuklir, BATAN Bantu Penurunan Stunting

464

Oleh: Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan, BATAN

Berdasarkan hasil SSGBI tahun 2019, terdapat 27,7 persen balita Indonesia yang mengalami stunting. Status gizi yang buruk pada ibu hamil dan bayi merupakan faktor utama yang menyebabkan stunting. Karena dampaknya yang sulit diperbaiki dan merugikan, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini mulai dari usia remaja, wanita usia subur, ibu hamil, hingga bayi berusia 2 tahun.

Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang bergerak di bidang penelitian teknologi nuklir ikut berkontribusi dalam upaya pemerintah mengurangi prevalensi stunting dengan melakukan penelitian di kota Kupang dan kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan riset ini bekerjasama dengan tim peneliti dari SEAMEO RECFON dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Kementrian Kesehatan.

Penelitian bertujuan untuk melakukan evaluasi kecukupan zat gizi mikro pada anak di bawah usia dua tahun (baduta) yang mengalami stunting dibandingkan dengan baduta normal di kota Kupang, kabupaten Timor Tengah Selatan dan kabupaten Tangerang. Hasil yang diperoleh berupa komposisi zat gizi dari asupan baduta, termasuk konsumsi ASI, selama 24 jam. Penelitian total diet study pada baduta stunting diawali dengan screening melalui pengukuran antropometri di lapangan. Kuesioner 24-h total recall digunakan untuk memperoleh data asupan harian 24 jam selama dua hari yang tidak berurutan sebagai data perbandingan. Sampel asupan yang diambil adalah sampel duplicate diet makanan pagi, siang dan malam serta jajanan dan minuman yang dikonsumsi selama satu hari.

Preparasi sampel dilakukan melalui proses homogenisasi dan pengeringan menggunakan freeze dryer. Proses analisis komposisi zat gizi mikro dilakukan menggunakan Teknik Analisis Nuklir seperti teknik analisis aktivasi neutron (AAN) dan total X-ray fluorescence (TXRF). Teknik Analisis Nuklir merupakan teknik analisis yang multiunsur, non destruktif, selektif dan sensitif sehingga mampu menganalisis komposisi zat gizi secara akurat hingga orde (ukuran) ppb (parts per billion/ bagian per semilyar).

Pengukuran Sampel Menggunakan TXRF di laboratorium BATAN Bandung

Teknik ini diharapkan dapat menghasilkan data identifikasi nutrient gap yang berguna dalam menyusun intervensi tepat sasaran untuk pemenuhan zat gizi baduta stunting.

Hasil penelitian sementara menunjukkan adanya indikasi asupan zat gizi mikro seperti Fe, Zn, Se dan Ca pada baduta stunting lebih rendah jika dibandingkan baduta normal. Adapun hasil penelitian pada lebih dari 250 sampel ASI menunjukkan bahwa kandungan zat gizi pada ASI tidak berbeda signifikan antara baduta stunting dan baduta normal. Akan tetapi, jumlah baduta normal yang mengkonsumsi ASI lebih banyak dibandingkan baduta stunting. Gerakan pemerintah dalam mendorong pemberian ASI dan penyediaan asupan makanan bergizi merupakan salah satu cara yang efektif dalam mencegah stunting.

Saat ini, PSTNT BATAN Bandung sedang merintis riset pembuatan produk pangan kaya gizi dan bebas logam berat berbasis pangan lokal untuk memenuhi kecukupan zat gizi yang terindikasi kurang pada asupan baduta stunting.