Kulonprogo Kembangkan Beras Biofortifikasi Anti-Stunting seluas 600 Hektar

65

Kulonprogo– Dalam rangka monitoring pelaksanaan intervensi gizi sensitif penurunan stunting, Kementerian PPN/Bappenas bersama Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertanian meninjau kemajuan program Kawasan Padi Kaya Gizi (Biofortifikasi) di Kabupaten Kulonprogo pada Jum’at 19 November 2021. Monitoring ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan konvergensi program dari hulu ke hilir, serta dampaknya terhadap kelompok sasaran prioritas ibu hamil dan baduta.

Kulonprogo merupakan satu dari 95 kabupaten di Indonesia yang menjadi lokasi prioritas program biofortifikasi padi. Oleh karenanya, penanaman padi harus dilakukan pada desa-desa yang memiliki angka stunting relatif tinggi dan termasuk ke dalam kriteria desa rawan pangan.

Tri Hidayatun, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kulonprogo, menjelaskan bahwa program ini sudah diinisiasi sejak tahun 2020 melalui bantuan 10 kg benih padi Inpari Nutrizinc untuk ditanam pada lahan seluas 8 hektar. Setelah panen perdana dan menghasilkan kualitas yang baik, Dinas Pertanian kemudian memperluas penanaman padi Inpari melalui dana APBD dan APBN masing-masing 300 hektar sehingga total perluasan mencapai 600 hektar.

Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kabupaten Kulonprogo, Didik Wijanarto, mengungkapkan program ini telah disinergikan dengan program BPNT yang dikelola Dinas Sosial. “Beras yang telah diproduksi dan dikemas, selanjutnya didistribusikan melalui e-warong di kecamatan yang sama. Hal ini guna memastikan beras Nutrizinc dapat menyasar langsung KPM yang memiliki ibu hamil dan baduta. Selain itu, agar hasil produksi beras ini dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat setempat,” ungkapnya.

Berbeda dengan jenis padi lainnya, varietas Nutrizinc memiliki kandungan zinc yang lebih tinggi dengan rata-rata kandungan 29,54 ppm dan dapat mencapai 34,51 ppm. Kelebihan lainnya, padi ini memiliki umur panen kurang lebih 115 hari dengan potensi hasil 9,98 ton per hektar, memiliki kandungan amilosa 16,6%, dan bertekstur nasi empuk.

Hasil monitoring merekomendasikan produksi beras Nutrizinc dapat ditingkatkan karena produksi saat ini belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan program BPNT di Kulonprogo. Selain itu, perlu peningkatan edukasi kepada petani agar mau menanam padi jenis Inpari untuk mencegah stunting di desanya. Terakhir, diperlukan penguatan komitmen pemerintah pusat dan provinsi untuk memperluas program biofortifikasi padi ke daerah lainnya.

 

Penulis: Febriansyah Soebagio (Tenaga Ahli Analisis Kinerja Program, Sekretariat Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi Kementerian PPN/ Bappenas)

Editor: Tim Knowledge Platform SUN Indonesia, Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/ Bappenas