Upaya Dietisien dalam Penanganan Stunting dan Masalah Gizi di Era Pandemi

488

Oleh: Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI)

Stunting tidak akan terlepas dari peran gizi dalam 1000 hari pertama kehidupan. Asosiasi Dietisien Indonesia  (AsDI) merupakan bagian dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) yang fokus kepada penatalaksanaan gizi di rumah sakit atau puskesmas dengan rawat inap. Fokus utamanya adalah melakukan Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) kepada klien yang dirawat, baik rawat inap maupun rawat jalan.

Apabila terjadi permasalahan gizi pada golongan rawan gizi, baik ibu hamil maupun ibu menyusui, maka akan menghasilkan gizi buruk maupun gizi kurang pada anak dan balita. Anak dengan gizi kurang dan gizi buruk akan menjadi generasi yang rapuh, memiliki kemampuan kognitif yang rendah serta daya saing yang lemah. Oleh karena itu, dietisien menaruh perhatian khusus pada penanganan gizi buruk dan stunting.

Sebanyak 100% kejadian balita gizi buruk maupun stunting telah mendapat Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan memperoleh perawatan melalui Therapeutic Feeding Center (TFC) atau Pusat Pemulihan Gizi, dan Community Feeding Center (CFC) atau Pos Pemulihan Gizi. TFC dan CFC didirikan dengan menggandeng tenaga kesehatan lainnya seperti dokter anak, perawat dan fisioterapis. Penemuan kasus gizi buruk dilaksanakan dengan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) serta melalui mekanisme rujukan dari posyandu, puskesmas, hingga rumah sakit. Mekanisme Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) telah dilakukan sejak tahap pengkajian.

Tujuan pemberian asuhan gizi adalah untuk mengembalikan status gizi baik dengan mengintervensi berbagai faktor penyebab. Keberhasilan PAGT ditentukan dari efektivitas intervensi gizi melalui edukasi dan konseling gizi yang efektif, pemberian dietetik yang sesuai untuk pasien di rumah sakit serta kolaborasi lintas profesi. Monitoring dan evaluasi menggunakan indikator asuhan gizi yang terukur dilakukan untuk menunjukkan keberhasilan penanganan asuhan gizi dan pendokumentasian semua tahapan proses asuhan gizi. Contoh pendokumentasian mengenai faktor penyebab masalah gizi adalah sebagai berikut:

  1. Pendapat dan tindakan yang salah mengenai gizi
  2. Perilaku
  3. Kultur budaya
  4. Kurangnya tingkat pemahaman mengenai makanan dan kesehatan atau informasi dan petunjuk mengenai gizi
  5. Riwayat personal (usia, gender, merokok, kemampuan mobilisasi, serta riwayat sosial dan sebagainya)
  6. Kondisi medis/kesehatan yang berdampak pada gizi
  7. Terapi medis bedah atau terapi lainnya yang berpengaruh pada gizi
  8. Kemampuan fisik melaksanakan aktivitas tertentu
  9. Masalah psikologis (body image, kesepian dan sebagainya)
  10. Ketersedian, suplai dan asupan makanan yang sehat dan air.

Gizi buruk dan stunting bisa dicegah melalui upaya preventif dan promotif, seperti  pemantauan pertumbuhan melalui penimbangan balita setiap bulan di Posyandu serta pemberian PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Penyuluhan. Sementara, peningkatan cakupan ASI Ekslusif dilakukan melalui pendidikan gizi dan konseling ASI/ MP-ASI, serta pembentukan Kelompok Pendukung Air Susu Ibu (KP-ASI) di masyarakat.

Pemenuhan zat gizi mikro dilakukan dengan pemberian vitamin A dosis tinggi setiap bulan Februari dan Agustus serta suplementasi Tablet Tambah Darah untuk ibu hamil dan remaja putri untuk menurunkan angka anemia pada wanita usia subur. Keluarga sebagai pondasi pembangunan kesehatan juga diberikan kesadaran akan pentingnya gizi melalui promosi Gerakan Nasional Sadar Gizi (Gernas Darzi) serta survey Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).

Di era pendemi, modifikasi penatalaksanaan gizi di masyarakat telah dilakukan  sesuai protokol kesehatan, diantaranya dalam pelaksanaan posyandu serta pemetaan kelompok risiko tinggi rawan gizi seperti Ibu hamil KEK dan melaksanakan pertemuan secara virtual.

Yang manjadi catatan adalah permasalahan gizi buruk dan stunting merupakan masalah yang komplek dan multifaktorial. Penyebab langsung gizi buruk dan stunting antara lain asupan makanan dan penyakit yang diderita balita. Sedangkan, penyebab tidak langsung meliputi ketersediaan pangan, kemampuan daya beli, pelayanan kesehatan, serta kesehatan lingkungan. Namun, yang paling banyak berpengaruh adalah pola asuh yang salah kepada balita.

Ke depannya, AsDI, yang anggotanya telah tersebar di seluruh Indonesia, akan melanjutkan proses edukasi di masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi, mulai dari gizi remaja putri hingga pencegahan gizi buruk dan stunting.