Anak-anak yang mengalami kekurangan gizi memiliki resiko dalam perkembangan kognitif yang sangat penting dalam kehidupannya saat dewasa. Asupan gizi yang baik, khususnya pada 1000 hari pertama kehidupan, sangat penting untuk seorang anak dapat tumbuh kembang secara optimal. Kekurangan zat gizi mikro seperti yodium dan besi pada periode penting tersebut dapat menyebabkan kerusakan kognitif yang sulit untuk diperbaiki.Intervensi pengembangan pendidikan anak usia dini dapat mengurangi dampak kemampuan belajar seorang anak yang mengalami kekurangan gizi, mengurangi terjadinya kesenjangan kemampuan anak-anak yang mengalami kekurangan gizi dan mereka yang tumbuh secara optimal.Saat usia dini merupakan waktu yang paling efektif dalam upaya mengimbangi dampak dari kekurangan gizi pada prestasi belajar di sekolah. Saat pola asuh, stimulasi dan gizi digabungkan dalam sebuah lingkungan pendidikan yang kondusif, anak yang stunted dapat mengejar ketertinggalan mereka dalam hal tingkat kecerdasan (IQ), dan di dalam kemampuan Analisa, komunikasi dan ketrampilan social.Berbagai program untuk memastikan seorang anak mendapatkan layanan pengembangan dan pendidikan usia dini, telah dilakukan oleh berbagai kementrian, seperti Kemendikbud, BKKBN, Kementrian Agama dan Kementrian Sosial.Strategi untuk mensinergikan komponen Pendidikan dan Gizi antara lain:
• Memperluas rentang usia program pengembangan anak usia dini untuk mencakup 0-6 tahun guna mengimbangi keterlambatan tumbuh kembang yang disebabkan kekurangan gizi• Menciptakan sinergitas dengan program bantuan sosial untuk memastikan rancangan program memiliki dampak optimal untuk tumbuh kembang anak, termasuk gizi, kesehatan dan perkembangan kognitifnya• Mendukung integrasi program dalam pelatihan dan kurikulum sekolah, termasuk harmonisasi pesan dalam berbagai materi KIE.
Kegiatan

Kegiatan

Berita

Berita