Dikalangan ahli ekonomi ada anggapan bahwa masalah kemiskinan adalah akar dari masalah kekurangan gizi. Kemiskinan menyebabkan akses terhadap pangan di rumah tangga sulit dicapai sehingga orang akan kekurang berbagai zat gizi yang dibutuhkan badan. Namun tidak banyak diketahui bahwa sebaliknya juga dapat terjadi. Kekurangan gizi dapat memiskinkan orang.
Anak atau orang yang kekurangan gizi, mudah terserang penyakit, berarti sering absen sekolah atau bekerja. Hal ini beresiko berkurangnya pendapatan. Sering sakit berarti pengeluaran untuk berobat makin tinggi. Mereka dapat jatuh miskin karena pengeluaran rumah sakit dan dokter yang terus menerus.
Anak yang kurang gizi dibuktikan tertinggal kelas 2—3 tahun dari sebayanya yang sehat. Dengan pendidikan yang relatif rendah, dan sering sakit, maka produktivitas mereka juga rendah. Peluang untuk mendapatkan lapangan kerja yang baik akan menjadi kecil. Dengan demikian akibat dari kekurangan gizi apabila tidak diupayakan perbaikan, khususnya pada masa 1000 HPK, dapat membuat keluarga menjadi miskin atau tambah miskin.
Salah satu program perlindungan sosial yang ada di Indonesia adalah PKH. PKH merupakan program bantuan tunai bersyarat dengan tujuan ganda: mempertahankan tingkat kesejahteraan keluarga miskin dalam jangka pendek dan mengatasi kemiskinan antar generasi dalam jangka panjang. Hingga tahun 2018, PKH sudah diluncurkan di 34 provinsi dengan jumlah penerima bantuan sebesar XX juta keluarga di tahun 2018. Evaluasi dampak menunjukan bahwa PKH berhasil meningkatkan konsumsi perkapita. Khusus untuk makanan, pengeluaran signifikan terlihat pada kelompok protein. Pada aspek perilaku kesehatan, dampak PKH terlihat pada peningkatan pemeriksaan kehamilan dan imunisasi lengkap sesuai jadwal, serta menurunkan secara signifikan severe stunting sebesar 3,3 percentage point.
Kegiatan

Kegiatan

Berita

Berita