Apa yang dimaksud dengan stunting?

Stunting atau pendek adalah salah satu bentuk kekurangan gizi. Banyak orang berpikir bahwa tinggi seorang anak bergantung pada faktor genetik (keturunan) dan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegah atau memperbaikinya. Sebenarnya pendek adalah kondisi serius yang terjadi saat seseorang tidak mendapatkan asupan bergizi dalam jumlah yang tepat dalam waktu yang lama (kronik), sehingga sebenarnya stunting dapat dicegah dengan asupan gizi yang memadai, terutama pada 1000 hari pertama kehidupannya.

Apa yang dimaksud dengan 1000 hari pertama kehidupan?

Seribu hari pertama kehidupan – sejak janin dalam kandungan hingga ulang tahun kedua seorang anak – merupakan periode yang sangat penting karena kebanyakan kerusakan, atau terhambatnya pertumbuhan yang disebabkan oleh kurang gizi, terjadi selama periode tersebut. Gagal tumbuh dapat terjadi karena terhambatnya perkembangan otak yang tidak dapat diperbaiki sesudah periode tersebut. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memfokuskan perhatian pada periode 1000 hari pertama kehidupan, dan memastikan bahwa ibu mendapat gizi yang cukup selama kehamilan serta mengerjakan berbagai langkah untuk mencegah anak menjadi kurang gizi selama dua tahun pertama kehidupannya.

Intervensi untuk mencegah kurang gizi pada 1000 hari pertama kehidupan bukan hanya dapat meningkatkan tinggi badan seorang, tetapi juga dapat meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup seorang anak, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta pertumbuhan otak yang optimum.

Apakah Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan?

Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gernas PPG 1000 HPK) ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia untuk menjawab permasalahan kurang gizi di Indonesia yang sangat tinggi, sementara faktor penyebabnya sangat banyak dan kompleks sehingga tidak ada solusi tunggal yang dapat menyelesaikannya. Gerakan ini berupaya untuk melibatkan berbagai sektor dan para pemangku kepentingan untuk bekerja bersama dalam menurunkan prevalensi stunting dan bentuk-bentuk kurang gizi lainnya di Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden No. 42/2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Gerakan yang diluncurkan secara resmi pada Hari Pangan Sedunia pada bulan Mei 2013 ini merupakan bagian dari gerakan global Scaling Up Nutrition (SUN) Movement, yang saat ini juga dilakukan di 60 negara.

Mengapa kita harus khawatir tentang stunting?

Stunting atau pendek pada balita menyebabkan kerusakan yang berlangsung seumur hidup. Kerusakan yang terjadi disebabkan karena seorang anak tidak mendapatkan berbagai gizi penting untuk pertumbuhan, sistem kekebalan tubuh yang kuat serta pertumbuhan otak yang optimal.

Secara global, stunting berkontribusi terhadap 15-17 persen dari seluruh kematian anak. Walaupun mereka selamat, mereka kurang berprestasi di sekolah sehingga menjadi kurang produktif saat dewasa. Hal tersebut akan menjadikan mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan yang cukup sehingga mereka akan terus berada dalam kemiskinan. Stunting, misalnya, dapat menurunkan penghasilan seumur hidup sebanyak 20 persen.

Beban stunting yang sangat besar di Indonesia merupakan masalah serius. Ini berarti bahwa negara memiliki jutaan anak kurang gizi yang kurang dapat berprestasi di sekolah, kurang mampu mendapatkan cukup penghasilan saat dewasa dan berkontribusi bagi ekonomi bangsa. Oleh sebab itu, stunting menjadi salah satu ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan Indonesia.

Seberapa besar permasalahan gizi di Indonesia?

Segala bentuk permasalahan gizi terjadi di Indonesia. Stunting diderita oleh hampir 9 juta anak balita (37.2%) dan merupakan tertinggi ke 5 di dunia. Wasting diderita oleh kira-kira 3 juta anak balita (13.3%), lebih sedikit dibanding stunting tetapi juga mengkhawatirkan karena anak-anak yang sangat kurus lebih mudah terkena penyakit dan meninggal.

Salah satu alasan mengapa stunting sangat banyak terjadi pada anak-anak Indonesia adalah karena usia ibu yang belum cukup saat kehamilan dan pertumbuhan mereka sendiri belum sepenuhnya berkembang: kira-kira sepertiga wanita berusia 20-45 tahun memiliki anak pertama pada usia remaja (SDKI 2012). Sekitar satu dari delapan wanita dengan usia subur memiliki lengan yang sangat kurus yang menandakan bahwa mereka mengalami kurang gizi.

Untuk menambah kekhawatiran ini, kelebihan berat badan muncul sebagai suatu masalah kesehatan masyarakat. Terjadi kenaikan prevalensi kelebihan berat badan pada penduduk laki-laki dewasa obesitas pada tahun 2013 sebanyak 19,7 persen, lebih tinggi dari tahun 2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%).  Sementara itu pada tahun 2013, prevalensi obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) mengalami peningkatan dari 13, 9% (2007), 15,5% (2010) menjadi 32,9 persen pada tahun 2013.

Apa saja masalah kurang gizi yang ada di Indonesia?

Ada beberapa bentuk kurang gizi:

  • Kurus: berat badan kurang untuk ukuran tinggi badannya.
  • Pendek: tinggi badan kurang untuk usianya.
  • Kurang gizi: berat badan kurang untuk usianya
  • Kekurangan gizi mikro: terjadi bila seseorang kekurangan vitamin atau mineral tertentu, seperti misalnya vitamin A, zat besi atau yodium.

Kurang gizi juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit seperti misalnya diare, cacingan, campak dan malaria yang menyebabkan tubuh kehilangan atau menggunakan lebih banyak gizi dibandingkan dengan yang bisa digantikan.

Apa penyebab kurang gizi?

Kebanyakan orang memahami kurang gizi hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan, tetapi yang lebih penting disadari adalah adanya penyebab-penyebab lain. Anak-anak dapat mengalami kurang gizi jika mereka menderita penyakit-penyakit yang menyebabkan mereka menjadi kurang gizi, atau jika tidak mampu mendapatkan cukup asupan makanan yang bergizi. Kedua penyebab ini – penyakit dan asupan makanan yang kurang mencukupi – sering terjadi bersamaan dan disebabkan oleh berbagai faktor yang mendasarinya termasuk:

  • Permasalahan ketahanan pangan di rumah tangga, saat rumah tangga tidak mampu menghasilkan atau membeli makanan yang cukup.
  • Minimnya pola asuh yang baik, terutama pemberian ASI, makanan pendamping ASI, dan perawatan terhadap ibu sebelum dan selama kehamilan serta setelah persalinan.
  • Air, sanitasi, dan higien yang buruk, yang meningkatkan penularan berbagai penyakit seperti misalnya diare.
  • Layanan kesehatan yang kurang memadai, yang berarti bahwa ibu dan anak tidak dapat menerima intervensi yang memadai untuk mencegah dan menangani kurang gizi dan berbagai penyakit menular
  • Penyebab mendasar seperti misalnya kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.
Bagaimana mencegah kurang gizi?

Intervensi untuk menanggulangi kurang gizi terbagi menjadi dua jenis: gizi spesifik (langsung) dan gizi sensitif (tidak langsung).

Intervensi gizi spesifik (langsung) digunakan untuk menangani penyebab-penyebab langsung terjadinya kurang gizi. Kebanyakan dari intervensi ini dilaksanakan oleh sektor kesehatan dan meliputi konseling ASI, makanan pendamping ASI dan makanan selama kehamilan, pemberian vitamin dan mineral, penanganan balita gizi buruk (kurus), dan intervensi untuk mencegah dan mengobati infeksi seperti misalnya diare, cacingan dan malaria.

Intervensi gizi sensitif (tidak langsung) digunakan untuk menangani penyebab tidak langsung terjadinya kurang gizi, seperti ketahanan pangan rumah tangga, air, sanitasi, dan higien yang buruk, dan kemiskinan. Intervensi-intervensi ini dilaksanakan melalui berbagai sektor seperti misalnya pekerjaan umum, pertanian, kelautan dan perikanan, kesehatan, pendidikan, perdagangan dan industri, dan kesejahteraan sosial.

Apa saja intervensi gizi selama 1000 hari pertama kehidupan?

Sebagai bagian dari intervensi gizi spesifik, sejak konsepsi ibu hamil harus mengonsumsi tablet besi folat / gizi mikro. Makanan selama kehamilan pun harus dipastikan mengandung gizi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan. Sesudah bayi lahir sampai 6 bulan, ibu memberikan ASI secara eksklusif. Selanjutnya, ASI harus disertai dengan pemberian makanan pendamping, tabur gizi dan pemberian kapsul vitamin A hingga usia anak mencapai 5 tahun, pemberian obat cacing pada anak usia 1-5 tahun, dan penggunaan garam yodium di tingkat rumah tangga. Selain itu, intervensi gizi spesifik lain termasuk program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penanganan gizi buruk (kurus) serta pencegahan dan penanganan penyakit seperti diare, cacingan dan malaria.

Intervensi gizi sensitif (tidak langsung) termasuk mempermudah akses pangan yang bergizi untuk semua, meningkatkan akses terhadap air bersih, sanitasi dan perilaku bersih sehat untuk mengurangi infeksi dan penyakit, pendidikan anak usia dini, keluarga berencana, program perlindungan sosial seperti bantuan tunai bersyarat melalui Program Keluarga Harapan (PKH) serta cakupan jaminan kesehatan semesta.